Sekian lama aku menunggu. Puing-puing dedaunan layu di tepi jalan. Terhempas hilang bersama angin. Akankah sejarah bisa terulang kembali. Aku ingin kembali ke masa lalu. Seandainya pintu ajaib milik Doraemon ada di dunia nyata. Aku ingin pergi ke suatu tempat, dimana hati ini akan merasa damai dan tenang.
Hujan deras mengguyur kota Surabaya. Aku terdiam dibalik dinding kaca. Ditemani segelas kopi hangat bernuansa klasikal khas Italiano. Aku duduk sendirian. Tiba - tiba dari arah belakang aku melihat Julia Rahman. Wajahnya terlihat masih samar-samar. Sejenak aku perhatikan dari gaya tubuhnya. Ku panggil namanya dengan suara yang cukup keras.
"Julia!"
Dia menengok ke belakang. Setelah itu dia menatap wajahku. "Hai..?" ucap Julia dari kejauhan. Perlahan dia mulai mendekatiku.
"Kok sendirian?" ujar Julia.
" Iya,nih. Lagi galau."
"Galau kenapa?" Julia terlihat sok perhatian.
"Ada,deh"
"Vin, kami beneran suka sama Aprilia."
"Sebenarnya sejak dari SMP aku sudah suka, tapi......".
"Tapi, kenapa?"
"Setiap kali aku nembak pasti ada aja halanganya. Termasuk kamu?"
"Kok bawa-bawa aku?" Julia mulai penasaran.
"Udah deh lupakan."
"Aku tahu kok perasaanmu." Julia mencoba menghiburku.
"Tumben kamu gak ke Gereja?"
"Barusan pulang dari sana."
Gugusan ombak di lautan bagaikan nirwana yang jatuh di depan mata. Julia Rahman memberikan senyuman terindah nya. Bagiku dia bagaikan bidadari yang turun dari surga. Saat itu aku menanyakan kejujuran hatinya tentang aku.
"Julia, benarkah kamu suka sama aku?"
"Kamu kok bisa mikir kayak gitu,sih."
"Suka apa enggak?" tanyaku serius
" Enggak,lah. Kita kan beda agama."
"Aku punya ide."
"Ide apa,Vin?"
" Gimana kalau kita pura-pura pacaran aja."
"Maksud,lho?"
"Kamu suka kan sama August?"
"Kamu tahu darimana?"
"Kenapa kalungmu pakai simbol huruf A segala."
"Ngaco kamu,nih."
"Kamu mau apa enggak."
"Enggak lah."
"Beneran gak mau?. Dengan cara ini kamu nanti bisa dapetin August."
"Kok bisa,Vin?"
"Sebenarnya August itu sudah suka sama kamu."
"Kamu tahu darimana?"
"Kemarin aku lihat folder di HPnya. Disana dia menyimpan foto-foto mu."
"Yang bener, Vin?"
Suasana malam ini semakin seru. Kami berdua ngobrol asyik kesana kemari. Hari ini aku merasa bahagia lagi. Aku akan membuang rasa galau ini sejauh mungkin. Julia Rahman sudah resmi menjadi pacar settinganku. Selama di kampus aku selalu jalan berdua. Semua orang melihatku dengan tatapan mata yang aneh.
Siang ini aku berada di kantin. Terlihat banyak mahasiswa yang makan disini.
"Kamu mau makan apa, Pril?"
"Kok April."
"Maaf, lagi gak konsen."
"Aku pesen bakso gak pake sambal."
Aku dan Julia makan bersama berada dalam satu meja. Datanglah Aprilia bersama August menghampiri kami berdua.
"Lagi ngapain kalian?" tanya August
"Lagi pacaran." jawabku cuek.
"Emang kapan jadian?"
"Kapan,ya?" aku garuk-garuk kepala.
"Sudah satu mingguan." Sahut Julia.
Wajah Aprilia terlihat biasa-biasa aja. Ku pikir dia merespon tapi ternyata tidak. Dari tadi dia cuma diam. Saat itu aku beranikan diri untuk bertanya kepada August.
"Terus hubunganmu sama Aprilia, gimana?" tanyaku sambil makan bakso.
August hanya diam saja. Saat itu dia langsung ngajak pergi Aprilia untuk menghindari pertanyaanku.
"Kamu lihat sendiri,kan?" ucap aku kepada Julia.
"Kamu jahat, Vin!"
"Maksudnya!"
"Jadi orang jangan terlalu posesif, deh!"
"Ini semua demi kebaikan kita berdua. Aku suka sama April dan kamu suka sama August. Kita itu cuma terjebak."
"Tapi jangan kayak gini caranya."
"Terus pake cara apa?"
"Lebih baik kita terus terang aja sama mereka."
"Terus terang gimana?" tanyaku serius.
"Besok kamu ajak ketemuan Aprilia di taman bungkul."
"Kamu sendiri?"
"Di tempat yang sama aku akan ngajak ketemuan August."
"Kamu serius?"
"Iya."
Mau gak mau aku harus nurutin kata Julia. Besok malam minggu aku akan mengajak Aprilia ketemuan di taman bungkul. Di tempat yang sama Julia akan ketemuan dengan August. Kita berdua sudah saling sepakat. Waktu yang dinanti sudah tiba. Aku duduk sendiri ditemani hiasan lampu kota. Aku membawa bunga mawar paling mahal di kota Surabaya. Bintang dan bulan perlahan meredup. Awan hitam sembunyikan cahayanya. Aku menunggu Aprilia dalam waktu yang cukup lama. Aku tetap sabar menunggu dan menunggu. Aku melihat Julia berdiri di bawah pohon Cemara. Kayaknya dia sudah merasa jenuh. Tiba-tiba hujan yang sangat lebat turun. Aku dan Julia berada dalam posisi tempat yang sama. Tubuhku basah kuyup. Bunga mawar mulai layu. Terbuang sia-sia bersama air yang mengalir. Hatiku terasa sakit bagaikan tersusul duri. Saat itu aku langsung menghampiri Julia. Aku peluk tubuh mungilnya. Tangisan Julia semakin keras. Dia terus memeluk tubuhku erat-erat.
"Sudahlah, anggap aja kita sedang di uji." Julia Rahman terus menangis tersedu-sedu. "Barusan aku dapat sms, katanya August ada acara keluarga. Aku sms Aprilia katanya sedang sibuk ngerjakan tugas. Kalau gitu kita pulang aja?". Malam semakin larut , aku dan Julia mulai meninggalkan taman bungkul. Ku balut jaket tebalku kepada Julia. Aku kasihan melihat dia kedinginan. Aku antar Julia sampai ke rumahnya.
Sejak peristiwa kemarin. Aku dan Julia mengalami perubahan hidup. Semangat belajarku semakin berkurang. Julia terlihat lebih murung. Saat ini aku dan Julia saling berpisah. Kami berdua hidup sendiri-sendiri. Patah hati sudah biasa. Tapi aku adalah pria sejati. Aku akan tetap sabar dan tabah meratapi nasib.