Sabtu, 11 November 2017

Episode 8 mesophyta

Sekian lama aku menunggu. Puing-puing dedaunan layu di tepi jalan. Terhempas hilang bersama angin. Akankah sejarah bisa terulang kembali. Aku ingin kembali ke masa lalu. Seandainya pintu ajaib milik Doraemon ada di dunia nyata. Aku ingin pergi ke suatu tempat, dimana hati ini akan merasa damai dan tenang.

Hujan deras mengguyur kota Surabaya. Aku terdiam dibalik dinding kaca. Ditemani segelas kopi hangat bernuansa klasikal khas Italiano. Aku duduk sendirian. Tiba - tiba dari arah belakang aku melihat Julia Rahman. Wajahnya terlihat masih samar-samar. Sejenak aku perhatikan dari gaya tubuhnya. Ku panggil namanya dengan suara yang cukup keras.

"Julia!"
Dia menengok ke belakang. Setelah itu dia menatap wajahku. "Hai..?" ucap Julia dari kejauhan. Perlahan dia mulai mendekatiku.
"Kok sendirian?" ujar Julia.
" Iya,nih. Lagi galau."
"Galau kenapa?" Julia terlihat sok perhatian.
"Ada,deh"
"Vin, kami beneran suka sama Aprilia."
"Sebenarnya sejak dari SMP aku sudah suka, tapi......".
"Tapi, kenapa?"
"Setiap kali aku nembak pasti ada aja halanganya. Termasuk kamu?"
"Kok bawa-bawa aku?" Julia mulai penasaran.
"Udah deh lupakan."
"Aku tahu kok perasaanmu." Julia mencoba menghiburku.
"Tumben kamu gak ke Gereja?"
"Barusan pulang dari sana."

Gugusan ombak di lautan bagaikan nirwana yang jatuh di depan mata. Julia Rahman memberikan senyuman terindah nya. Bagiku dia bagaikan bidadari yang turun dari surga. Saat itu aku menanyakan kejujuran hatinya tentang aku.

"Julia, benarkah kamu suka sama aku?"
"Kamu kok bisa mikir kayak gitu,sih."
"Suka apa enggak?" tanyaku serius
" Enggak,lah. Kita kan beda agama."
"Aku punya ide."
"Ide apa,Vin?"
" Gimana kalau kita pura-pura pacaran aja."
"Maksud,lho?"
"Kamu suka kan sama August?"
"Kamu tahu darimana?"
"Kenapa kalungmu pakai simbol huruf A segala."
"Ngaco kamu,nih."
"Kamu mau apa enggak."
"Enggak lah."
"Beneran gak mau?. Dengan cara ini kamu nanti bisa dapetin August."
"Kok bisa,Vin?"
"Sebenarnya August itu sudah suka sama kamu."
"Kamu tahu darimana?"
"Kemarin aku lihat folder di HPnya. Disana dia menyimpan foto-foto mu."
"Yang bener, Vin?"

Suasana malam ini semakin seru. Kami berdua ngobrol asyik kesana kemari. Hari ini aku merasa bahagia lagi. Aku akan membuang rasa galau ini sejauh mungkin. Julia Rahman sudah resmi menjadi pacar settinganku. Selama di kampus aku selalu jalan berdua. Semua orang melihatku dengan tatapan mata yang aneh.

Siang ini aku berada di kantin. Terlihat banyak mahasiswa yang makan disini.
"Kamu mau makan apa, Pril?"
"Kok April."
"Maaf, lagi gak konsen."
"Aku pesen bakso gak pake sambal."
Aku dan Julia makan bersama berada dalam satu meja. Datanglah Aprilia bersama August menghampiri kami berdua.
"Lagi ngapain kalian?" tanya August
"Lagi pacaran." jawabku cuek.
"Emang kapan jadian?"
"Kapan,ya?" aku garuk-garuk kepala.
"Sudah satu mingguan." Sahut Julia.

Wajah Aprilia terlihat biasa-biasa aja. Ku pikir dia merespon tapi ternyata tidak. Dari tadi dia cuma diam. Saat itu aku beranikan diri untuk bertanya kepada August.
"Terus hubunganmu sama Aprilia, gimana?" tanyaku sambil makan bakso.
August hanya diam saja. Saat itu dia langsung ngajak pergi Aprilia untuk menghindari pertanyaanku.

"Kamu lihat sendiri,kan?" ucap aku kepada Julia.
"Kamu jahat, Vin!"
"Maksudnya!"
"Jadi orang jangan terlalu posesif, deh!"
"Ini semua demi kebaikan kita berdua. Aku suka sama April dan kamu suka sama August. Kita itu cuma terjebak."
"Tapi jangan kayak gini caranya."
"Terus pake cara apa?"
"Lebih baik kita terus terang aja sama mereka."
"Terus terang gimana?" tanyaku serius.
"Besok kamu ajak ketemuan Aprilia di taman bungkul."
"Kamu sendiri?"
"Di tempat yang sama aku akan ngajak ketemuan August."
"Kamu serius?"
"Iya."

Mau gak mau aku harus nurutin kata Julia. Besok malam minggu aku akan mengajak Aprilia ketemuan di taman bungkul. Di tempat yang sama Julia akan ketemuan dengan August. Kita berdua sudah saling sepakat. Waktu yang dinanti sudah tiba. Aku duduk sendiri ditemani hiasan lampu kota. Aku membawa bunga mawar paling mahal di kota Surabaya. Bintang dan bulan perlahan meredup. Awan hitam sembunyikan cahayanya. Aku menunggu Aprilia dalam waktu yang cukup lama. Aku tetap sabar menunggu dan menunggu. Aku melihat Julia berdiri di bawah pohon Cemara. Kayaknya dia sudah merasa jenuh. Tiba-tiba hujan yang sangat lebat turun. Aku dan Julia berada dalam posisi tempat yang sama. Tubuhku basah kuyup. Bunga mawar mulai layu. Terbuang sia-sia bersama air yang mengalir. Hatiku terasa sakit bagaikan tersusul duri. Saat itu aku langsung menghampiri Julia. Aku peluk tubuh mungilnya. Tangisan Julia semakin keras. Dia terus memeluk tubuhku erat-erat.

"Sudahlah, anggap aja kita sedang di uji." Julia Rahman terus menangis tersedu-sedu. "Barusan aku dapat sms, katanya August ada acara keluarga. Aku sms Aprilia katanya sedang sibuk ngerjakan tugas. Kalau gitu kita pulang aja?". Malam semakin larut , aku dan Julia mulai meninggalkan taman bungkul. Ku balut jaket tebalku kepada Julia. Aku kasihan melihat dia kedinginan. Aku antar Julia sampai ke rumahnya.

Sejak peristiwa kemarin. Aku dan Julia mengalami perubahan hidup. Semangat belajarku semakin berkurang. Julia terlihat lebih murung. Saat ini aku dan Julia saling berpisah. Kami berdua hidup sendiri-sendiri. Patah hati sudah biasa. Tapi aku adalah pria sejati. Aku akan tetap sabar dan tabah meratapi nasib.

Jumat, 10 November 2017

Episode 7 mesophyta

Pagi buta aku terbangun dari mimpi. Rasanya males berangkat kuliah. Dulu waktu pertama kali masuk kampus ini aku selalu semangat. Tapi lama kelamaan bosan juga di kampus. Hari ini aku bolos kuliah. Paling cuma nitip absen sama temen. Aku pergi ke perpustakaan mencari novel Harry Potter edisi terbaru. Tak sengaja aku bertemu dengan Aprilia. Dia duduk bersama temannya. Terlihat dia menggunakan kaos berwarna pink. Aku masih ragu. "Samperin apa kagak ya?" ucapku dalam hati. Tak lama kemudian aku berubah pikiran. Tanpa rasa ragu aku samperin Aprilia.

"April." ucapku dengan suara lirih.
"Kevin?" April melihatku dengan tatapan mata aneh.
"Boleh duduk disini?"
"Silahkan."

Matanya bagaikan kelopak bunga anggrek. hampir 9 tahun aku kenal dengan April, namun kecantikan wajahnya masih menyihir hatiku. Saat itu aku beranikan diri untuk menanyakan hubungan dia dengan August.

"Pril, kamu suka sama August?"
"Apa gak ada pertanyaan lain selain itu." Terlihat April sedikit murung
"Maaf, ya?" sejenak aku berhenti bertanya
"Gak usah maaf, kamu gak salah."

Ternyata pertanyaanku tadi membuat Aprilia badmood. Selera membacanya jadi berkurang. Terlihat dia hanya membolak-balik kan buku tidak jelas.

"Ngomong-ngomong itu siapa, Pril?" tanyaku sambil melihat seorang cewek yang duduk disebelahnya.
"Ouh, ehem, ehem." April pura - pura batuk. tiba - tiba dia senyam senyum sendiri.
"Ada apa, Pril?" aku masih penasaran dengan tingkah anehnya.
"Kamu kenalan sendiri atau aku yang kenalin?" Aprilia menawarkan dua pilihan.
"Kamu aja deh, Pril."

Sepertinya ada hal aneh yang aku rasakan. April mulai beraksi. Dia melempar kertas kosong yang sudah dibuat dalam bentuk bulat. Kertas itu langsung dilempar ke arah temanya. Sontak. Temanya langsung kaget.

"Kalau baca buku yang serius." celetuk April.
"Sudah serius dari tadi."
"Serius darimana, ku lihat kamu sering ngantuk."
"Iya, Pril. Tadi malem nemenin papa nonton bola."
"Kenalin teman gue. Namanya Julio Kevin." Saat itu aku hanya bisa cengar cengir di hadapannya.
"Nama kamu siapa?" tanyaku sambil merapikan buku.
"Namaku Julia Rahman." Sejenak Aprilia melerai pembicaraan.
"Namanya kok hampir sama. Pasti kalian lahir di bulan Juli, kan?" aku dan Julia saat itu hanya bisa diam.
"Belum tentu ye..., Emang kamu tahu darimana?" Julia membantah tebakan Aprilia.
"Cie...kalian kayaknya cocok."
"Maksud lho?" wajah Julia mulai memerah.
"Pril, aku pamit dulu, ya?"

Tak lama kemudian aku langsung cabut. Sudah jatuh ketiban tangga pula. Hatiku sudah sakit, eh malah tambah disakitin lagi. Sepertinya Aprilia bahagia banget bisa membully aku dengan Julia. Sejak peristiwa tadi siang. Aku kembali berubah pikiran. Mulai besok aku gak mau ketemu dia lagi.

Senja telah tiba. Aku harus pulang ke kos kosan. Cuaca sedikit mendung. Aku baru ingat kalau aku punya jemuran disana. Aku takut kalau pakaianku terkena hujan. Saat itu aku mengayuh sepeda dengan kecepatan penuh. Akhirnya sampai juga di kos kosan. Terlihat August sedang menonton TV.

"Baru pulang, Vin?" tanya August
" Iya, ada rapat BEM tadi."
"Kamu ikutan organisasi gak jelas itu?" pernyataan August membuat kupingku sedikit panas.
" Maksud lho gak jelas gimana!"
" Emang gak jelas,kan. Sering ngadain demo. Tapi buktinya apa?, Harga sembako dan tetek bengeknya masih tetep mahal."
"Iya, juga, ya?" ucap aku sambil melepas pakaian.

Punya temen seperti August emang harus ekstra sabar. Dia itu seorang kritikus suka makan tikus. Kalau ada hal - hal yang aneh dia pasti angkat bicara. Anaknya emang suka ngajak orang berdebat. Tapi kelemahan hanya satu. Dia paling takut dengan kecoa. "Astaga, ada kecoa, Gus!" Dia langsung lari keluar kamar.

"Kamu belum mandi?" tanyaku
"Males, lagian besok libur."
"Dasar pemalas."
"O iya, Vin. Gua baru inget. Tadi ada cewek ngasihkan surat untuk kamu."
"Ah, ngibul, lho?" saat itu aku sempet gak percaya.
"Suer, demi tuhan Yesus!" Kalau udah bawa - bawa nama Yesus kayaknya dia serius.
"Ceweknya cantik apa jelek, Gus."
"Cantik dan sexy , bro."

Aku sendiri masih penasaran dengan cewek ini. Malam semakin larut. Terlihat August sudah tertidur pulas. Diam-diam aku membuka isi surat ini. Di dalamnya ada semacam gambar love yang dipasang didalamnya. Kurang lebih isinya seperti ini :

Dear : Kevin

Pertama kali aku kenal kamu, rasanya hatiku berdetak kencang. Aku gak nyangka bulan kelahiran kita bisa sama. Aku sangat mengagumi ketampanannya. Maukah kamu menjadi pacar pertamaku. Selama ini aku gak pernah pacaran. Baru kali ini aku ketemu kamu dan langsung jatuh cinta kepadamu

Salam jari manis,
Julia Rahman

Aku sedikit gak percaya. Ternyata cewek ini agresif juga sama aku. Baru kenal aja tadi siang. Sorenya udah buat surat segala. Kayaknya ada orang yang sengaja membuat surat ini. Tapi, aku masih belum tahu pelaku yang sebenarnya. Jarang - jarang aku bisa dapet surat cinta seperti ini. Biasanya aku seringnya di kasih surat tagihan listrik. Itu aja bayarnya kadang nyicil.

Keesokan harinya aku bertemu dengan Julia Rahman. Ku lihat wajahnya senyam senyum sendiri gak jelas. Aku ajak dia ngobrol empat mata disana. Tanpa basa - basi lagi aku menunjukkan surat cinta ini.

"Apakah surat ini dari kamu?" Aku bertanya dengan serius. Melihat surat yang aku tunjukkan, Julia langsung terkejut. Dengan penuh keyakinan dia menjawab. "Bukan! , Serius bukan aku. Tulisanku gak seperti itu." Julia menunjukkan tulisan aslinya dan ternyata benar, bukan dia pelakunya.
"Kayaknya tulisan itu gak asing, deh!" Sesekali Julia memandangi surat ini.
" Terus siapa pelaku sebenarnya!" tanyaku sedikit kesal.
"Kayaknya ada orang yang gak suka sama kamu deh, Vin." Setelah itu Julia langsung cabut.

Namanya Julia Rahman , gadis asal kota Bandung ini lahir di bulan Juli. Bulan lahirnya sama dengan aku. Orangnya baik, tapi agak culun,sih?. Kulitnya putih sawo matang. Kenapa harus sawo matang, kalau ada sawo yang mentah. Kan, sama-sama sawo. Sejak kenal dengan aku dia sedikit menjaga jarak. Dia non muslim, agama yang dia anut adalah agama Kristen. Gak tau dia ikut agama Kristen yang Katholik atau protestan. Sama kalau di dalam agama Islam juga ada dua yaitu Islam KTP atau Islam beneran.

Hari Minggu yang cerah. Terlihat August masih tidur. Semalem habis nonton konser Tipe-X di lapangan Brawijaya Surabaya. Mungkin dia masih kecapekan.

"Gust...,gust..., Bangun, Gust!" Dia masih tertidur pulas. Aku harus punya cara untuk ngebangunin dia. Aku tutup lubang hidungnya selama satu menit. Tak lama kemudian dia langsung bangun. Wajahku memar ditabok sama dia.
" Ayo bangun, bukanya hari ini kamu ada jadwal sembahyang di gereja?"
"Astaga, jam berapa, Vin."
"Jam 8 pagi." August langsung ganti baju. Tanpa mandi dan gosok gigi dia langsung tancap gas ke gereja.

Bagiku semua sabahat itu sama. Aku gak peduli dia agamanya apa. Bagiku sahabat terbaik adalah sahabat yang mau menerima kelebihan dan kekurangan kita.
Agamaku Islam dan Agamanya August Kristen. Aku dan dia hidup satu Kos bersama. Dia membaca Kitab Injil sedangkan aku membaca Kitab Suci Al Qur'an. Terkadang kami berdua saling memberi motivasi satu sama lainnya. Kalau adzan subuh biasanya dia yang ngebangunin aku.

Selasa, 07 November 2017

episode 6 mesophyta

Hari ini aku berangkat ke kampus bersama August. Aku naik sepeda gunung berwarna merah. August mengayuh sepeda dengan cepat. Saat itu aku berpapasan dengan Aprilia. Dia berangkat ke kampus jalan kaki. Dia tidak sendirian. Ku lihat dia bersama wanita berambut ikal.

"Tumben jalan kaki, Pril?" tanya aku
"Iya,Vin. sambil olahraga."
"Ngomong - ngomong siapa temanmu itu?"
"Cie...kamu suka, ya?" Aprilia menyindirku
"Kamu tu aneh-aneh aja."

Mataku mulai mengantuk mata kuliah bahasa Inggris yang semula asyik kini berubah menjadi bad mood. Gak tau kenapa dosen berambut pirang ini membuatku jengkel. Cara dia mengajar berbeda dengan dosen-dosen yang lain. Dikit-dikit tugas. Padahal yang aku inginkan hanya bisa lancar ngomong bahasa Inggris. Kalau sekedar teori mah, bisa aku pelajari sendiri di rumah.

Sepulang kuliah aku langsung ngerjakan tugas makalah. Saat itu August sedang pergi. Aku sendiri di dalam kamar. Menatap layar monitor dengan tatapan serius. Tiba - tiba listrik mati secara mendadak. Saat itu aku lupa ngesave. Sia-sia aku ngerjakan tugas semalam suntuk. Waktu sudah semakin malam. Hujan deras turun tiada henti. August sejak dari tadi belum pulang. Aku sempat khawatir kalau terjadi apa-apa kepadanya. Aku telpon gak di angkat.

Terdengar suara langkah kaki menuju kamar kos. Kayaknya si August udah pulang.

"Tok tok tok...." Suara ketukan pintu tak seperti biasanya. Nadanya sedikit cepat.
"April?" aku terkejut. Tubuhnya basah kuyup. Sorot matanya terlihat berkaca-kaca. Dengan suara gugup dia berkata,
"A..a.. August kecelakaan!"
"Innalilahi wa Inna Ilaihi Raji'un."
" Ayo ikut aku ke rumah sakit."

Aku tak peduli dengan hujan. Tanpa menggunakan jas hujan aku pergi ke rumah sakit bersama April. Tubuhku langsung basah kuyup. Hatiku semakin cemas. Ternyata firasatku benar. Dari sejak pagi aku sering bad mood. Tapi ada sedikit kejadian aneh yang masih mengganjal di dalam hatiku. Kenapa April bisa tahu lebih dulu kalau August sedang kecelakaan?. Padahal selama ini August jarang sekali berkomunikasi dengannya. Aku sedikit cemburu dengan kejadian ini.

Tak lama kemudian aku dan April tiba di rumah sakit. Kondisi August saat ini masih berada di ruang UGD. Selang beberapa menit aku di panggil oleh dokter.

"Anda saudaranya?" tanya dokter sambil melihatku.
"Iya, Dok." aku berpura-pura menjadi saudaranya.
" Kalau Mbaknya ini pasti pacarnya." ujar Dokter. Saat itu aku langsung menyela pertanyaan aneh ini.
"Bukan, Dok. dia saudaranya juga." Terlihat tangan Aprilia mencubit pahaku.

Alhamdulillah kondisi August tidak separah yang aku bayangkan. Wajah gantengnya masih tetap exis. Lukanya tidak terlalu parah. Mungkin pas waktu jatuh dia cuma pingsan. Setahuku dia emang suka pingsan. Sorot mata Aprilia terlihat berkaca-kaca memandangi wajah August. Terlihat August masih nyenyak tidur.

"Sedekat apa kamu dengan August?"
"Dia sudah aku anggap sebagai saudara kandung."
"Kok bisa!" hatiku rasanya seperti di masak mentah-mentah.

Tak lama kemudian August mulai sadar. Matanya membuka sedikit demi sedikit. Wajahnya terlihat lesu dan bersedih. Aku dan April mencoba untuk menenangknya.

"Aku dimana, Vin?" tanya August
"Kamu sekarang sudah ada di surga." jawabku nyleneh.
"Hah!, Jadi aku sudah mati!" aku dan April tertawa terbahak-bahak. Akhirnya suasana menjadi cair. August ternyata tahu kalau kami berdua sedang bercanda.

Bagiku sahabat hanyalah seorang sahabat. Terkadang sahabat bisa membuatku tenang dalam kedamaian. Akhir - akhir ini aku mencoba menjauh dengan mereka. Gak tau kenapa aku pingin cari sahabat yang lain. August dan April terlihat sangat akrab, melebihi keakrabanku dengan dia. Aku sedikit cemburu melihat dia sering berduaan.

Pernah suatu hari aku tanya kepada August, "Kamu suka sama April?" August terlihat gugup. Dia menjawab, "Suka sebagai apa dulu?". sejenak aku terdiam. "Kalau suka sebagai pacar gimana?"
" Enggak lah. Masak aku harus menjadi pagar makan tanaman." ujar August.
"Maksud, Lo?"
"Aku sebenarnya gak mau nyakitin hatimu, Vin. Tapi sekarang lebih baik aku jujur. Akhir-akhir ini April suka ngajak aku belajar bareng. Kayaknya dia sedikit ada rasa sama aku."
"Kok bisa gitu, Vin!" dalam hati terasa nyengsek.
"Udah deh, kamu kan udah dewasa. Anggap aja gak ada apa-apa. Aku tahu kok perasaanmu."
"Gak bisa gitu, Vin?. Aku jauh-jauh dari Semarang ke Surabaya hanya pingin ketemu dengan dia!". Mataku mulai berkaca-kaca.
"Urusan jodoh Allah yang ngatur. Agamamu Islam kan?. Tuhan Yesus juga mengatakan seperti itu." ujar Kevin.
"Kayaknya bener juga ucapanmu. Mulai sekarang aku mau fokus kuliah dulu. Akan aku buktikan kalau aku adalah cowok ksatria."

Akhir-akhir ini aku sengaja menjaga jarak dengan Aprilia. Sebenarnya August sudah tahu tentang perasaanku. Selama ini Aprilia belum sama sekali mengerti perasaanku. Di dalam hatinya seperti ada ruang hampa. Sepertinya dia pernah mengalami sakit hati yang sangat luar biasa. Sejak April dekat dengan August. Persahabatan kami bertiga sedikit retak. Sekarang aku sudah menginjak semester 7. Banyak sekali tugas kuliah yang terbengkalai. Makanan sehari-hariku hanyalah tugas dan tugas. Ngerjakan penelitian hampir setiap hari. Lama - lama aku bosan juga dengan tugas-tugas ini.

Kalau ada waktu selang aku gunakan untuk menulis karangan buku. Barang kali bisa aku terbitkan terus aku dapat royaltinya. Sejak SMP aku memang hobi menulis. Aku masih ingat waktu aku di puji oleh Bu Sri Wahyuni. "Kevin, kamu berbakat menjadi seorang penyair." Sejak saat itulah kemampuan menulis ku semakin berkembang sampai saat ini. Mungkin motivasi yang diberikan ibunya April ini bisa membangkitkan semangat ku lagi. Tapi sayang anaknya yang aku taksir malah pindah ke lain hati, yaitu sahabatku sendiri.

Episode 5 mesophyta

Gurun Sahara pindah di kota Surabaya. Keringat bercucuran dimana-mana. Panas matahari membakar tubuhku. Mereka bagaikan perompak yang suka mengatur ini dan itu. Aku terkapar di tengah lapangan. Semuanya berbaris rapi seperti ikan pindang yang siap di panggang. Hari pertama ospek ternyata sangat melelahkan. Aku benci ospek. Suatu saat kalau aku jadi rektor disini, acara ospek akan aku hapus. Bukanya mendidik mahasiswa malah membuat mereka merasa rendah martabatnya.

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Kegiatan ospek sudah berakhir. Saat itu aku sedang berada di perpustakaan. Terlihat dari belakang ada wanita memakai kaos pink. Tiba-tiba secara tak sengaja wanita tersebut menabrakku. Buku yang dibawanya kocar kacir kemana-mana. Lantas, aku bantu dia untuk mengambilnya.

"Kevin?"
"April?"
"Kevin?"
"April?"
" Iya, aku April!"
"Kayaknya aku mimpi,deh. Coba cubit aku." April mencubitku dengan sangat keras. "Aduh.....!, Atitt.!" Teriak aku sekeras-kerasnya. Semua orang yang ada di perpustakaan melihat tingkah konyolku. Tapi, aku cuek saja, yang penting hari ini aku bisa ketemu dengan April.

"kok bisa kesini?" tanya Aprilia sambil merapikan buku.
"Kamu juga kok bisa disini?" aku balik bertanya.
"Aku sayang sama kamu, Pril."
"Kamu tuh aneh-aneh saja."
"Beneran, aku serius, Pril."
"Sayang sebagai sahabat, kan?" Sejenak aku terdiam. Mungkin April benar. Selama ini dia menganggapku sebagai sahabat. Padahal sebenarnya aku sangat mencintainya.

Gemerlap bintang di langit hangatkan suasana. Banyak orang-orang melepas kegalauanya di tempat ini. Berteman dengan segelas kopi panas bercampur tepung tapioka. Rasanya cukup aneh. Mungkin ini pertama kalinya aku merasakan kopi rasa tepung. Gara-gara kopi, semalam aku gak bisa tidur. Padahal besok ada mata kuliah bahasa Inggris. Aku tidur cuma tiga jam. Setelah itu aku bangun pagi, langsung gosok gigi terus mandi tapi gak ada air terpaksa harus antri.

Selama di Surabaya aku tinggal di kos-kosan ukuran 4x2. Kebayangkan sempitnya kayak apa. Satu ruangan ini aku gunakan untuk tidur, masak dan mandi. Terkadang aku bisa tertidur di kamar mandi. Kadang juga masak di tempat tidur. Pokoknya serba kebalik. Di kos kosan aku gak sendiri. Disini aku ditemani oleh pria berkulit putih, matanya sipit. Tubuhnya kurus kering. Rambutnya ikal. Namanya August Hermansyah. Dia lahir di Bandung. Nyokap dan Bokapnya sudah lama berpisah alias cerai. Sejak ditinggal Bokap.  August tinggal bersama nyokapnya. Dia harus rela meninggalkan nyokap demi cita-cita mulianya. Suatu saat dia pingin menjadi dokter. Kebetulan dia sedang menempuh pendidikan kedokteran di UNAIR.

Senin, 06 November 2017

Episode 4 mesophyta

Suara alam menderu membuat telingaku gelisah. Aku berdiri di pelataran sawah. Hamparan padi menguning sejukkan suasana. Disini aku pernah duduk bareng bersama Aprilia sambil melihat bunga anggrek yang indah. Pohon jati besar berdiri kokoh tepat dibawah kami. Angin sepoi-sepoi membuat suasana semakin romantis. Sebelum lulus SMP aku sengaja mengajak Aprilia kesini.

"Pril, beneran kamu nanti ke Surabaya?" tanya aku.
"Iya, Vin."
"Jangan lupa ya sama aku."
"Iya."

Cukup jawaban "iya" yang masih teringat di dalam benakku. Waktu berjalan silih berganti. 3 tahun bukanlah waktu yang singkat. Selama 3 tahun itulah aku merasa ada seseorang yang menjaga. Terkadang aku sempat curiga. Bisa jadi Aprilia sudah punya pacar. Tapi, pas aku lihat profil Facebooknya, hampir tidak ada foto cowok bersamanya.

Lewat sambungan telpon aku mencoba menghubungi dia. Ternyata yang ngangkat malah budenya.

"Assalamualaikum, dengan Aprilia?"
"Maaf, Aprilia siapa?"
"Aku Kevin teman sekolahnya."
"Aprilianya tidak ada di rumah."
"Hpnya kok di tinggal?"
"Tadi ketinggalan."
"Emangnya pergi kemana bude?"
"Dia ikut tes masuk perguruan tinggi."
"Dimana, bude?"
"Di kampus UNAIR Surabaya."

Mendengar kabar tersebut, aku tertarik pingin kuliah di UNAIR. setelah aku browsing di google. Ternyata biaya kuliah di UNAIR lumayan mahal. Saat itu aku mengikuti tes tulis masuk perguruan tinggi. Aku mengambil jurusan biologi di Fakultas Sains dan Teknologi di UNAIR Surabaya. Aku berharap bisa diterima disana. Melihat saingan yang cukup berat serta kuota yang sedikit. Saat ini aku mulai mengikuti tes privat. Pagi, siang dan malam aku belajar. Gara - gara kebanyakan baca buku. Mataku terlihat sipit dan berkerut. Ini semua aku lakukan demi Aprilia. Aku berharap bisa bertemu dia disana.

Hari ini aku mengikuti tes tulis di kampus Undip Semarang. Banyak sekali peserta yang ikut tes ini. Dengan segala cara aku menjawab soal dengan sungguh-sungguh. Aku menunggu pengumuman kelulusan selama dua bulan. Selama dua bulan aku seperti orang pengangguran. Lontang Lantung kesana kemari gak ada kerjaan.

Akhirnya dua bulan berlalu dengan cepat. Selama di rumah aku gunakan untuk makan, tidur , bangun , main game dan tidur lagi. Dengan uang seribu perak aku pergi ke warnet. Aku melihat pengumuman kelulusan lewat online. Alhamdulillah aku diterima di kampus UNAIR jurusan biologi. Saat itu aku seperti mimpi. Ku panggil penjaga warnet untuk mencubitku. "Bang, sini cubitin aku!". Dengan cubitan yang keras aku merasa sangat kesakitan "Aduh....,sudah cukup, terimakasih,Bang." Ternyata benar aku tidak mimpi.

Saat itu aku sengaja tidak mengasih tahu Aprilia. Biarkan aku yang akan memberi kejutan kepadanya. Ini pertama kalinya aku hijrah ke kota Surabaya. Nyokap dan bokap sudah memberi izin dan dukungan kepadaku. Berat rasanya ninggalin keluarga di rumah. Di tengah perjalanan aku sempat meneteskan air mata. Mungkin dalam waktu yang sangat lama aku gak bisa menikmati masakan ibu lagi.

Bagiku kota Surabaya adalah kota yang sangat panas. Pertama kali menginjakkan kaki disini seperti berada di gurun sahara. Suara ocehan pedagang asongan membuat kupingku geram. Terpaksa aku sumpeli dengan headset. Saat itu aku masih bingung mencari tempat tinggal dimana.

Terlihat ada sebuah masjid yang jaraknya lumayan dekat dengan kampus UNAIR. Setelah ijin dengan ta'mir masjidnya. Aku dipersilahkan untuk menginap disini. Keesokan harinya aku langsung pergi ke kampus UNAIR untuk registrasi sebagai berikut mahasiswa baru. Sampai detik ini aku sama sekali belum bertemu dengan Aprilia. Calon mahasiswa baru yang datang banyak banget. Ada yang dari Papua, Kalimantan, Sulawesi dan ada juga yang dari Malaysia.

Minggu, 05 November 2017

Episode 3 mesophyta

Tak terasa sudah memasuki H-1 pelaksanaan UN. Malam ini aku males belajar. Semua soal latihan sudah aku kerjakan. Sambil dengerin musik aku melukis sketsa wajah. Tadi siang aku menemukan foto 3x4 nya Aprilia di kolong meja. Beruntung kelasnya sepi. Kalau lagi rame pasti banyak orang yang lihat.

Kupandangi foto itu dengan penuh perasaan. Foto ini sudah menyihir alam bawah sadarku. Selama ini Aprilia masih belum tahu kalau aku mencintai dirinya. Namun, apalah daya. Nasib jomblo ingusan berkacamata. Aku akan tetap berusaha untuk mendapatkan hatinya.
Akhirnya gambar sketsa wajah Aprilia sudah jadi. Semalem aku nglembur hanya untuk gambar ini.

Siang ini lesnya libur. Terlihat Aprilia berjalan menuju pintu gerbang sekolah. Untung dia belum naik angkot. Ku panggil Aprilia dengan suara yang keras. "April...!" , Dia menoleh kepadaku. Tanganku melambai - lambai dari seberang jalan. Aprilia melihatku dengan tatapan mata sedikit aneh. Setelah itu Aprilia membalas dengan lambaian tangan. Terpaksa aku harus menyebrang jalan lagi untuk menemui dia.

"Ada apa, Vin?" tanya Aprilia.
" Aku mau ngasih sesuatu buat kamu." jawab aku sambil memberikan gambar sketsa wajahnya yang sudah aku bungkus dengan kertas koran.
"Apa isinya , Vin?" Aprilia mulai penasaran
"Buka di rumah saja, ya."

Selang satu menit bus angkotan sekolah datang. Aprilia memberikan senyuman manis kepadaku. Akupun membalasnya dengan senyuman sambil melambaikan tangan. "Hati - hati di jalan, Pril." ucap aku. Rasanya lega sudah bisa memberikan gambar tadi.

Keesokan harinya aku berangkat sekolah dengan penuh percaya diri. Hari ini aku akan bertempur melawan soal - soal UN. Terlihat teman - temanku banyak yang bergerombol. Rupanya mereka sedang mencatat kunci jawaban. Saat itu aku di tawari kunci jawaban paket soal A. "kok cuma paket A, kalau nanti bagianku dapet yang B, gimana?". aku bertanya sambil melihat-lihat kunci jawaban yang lain. "Ets, bayar dulu 10.000." dulu uang 10.000 bisa buat uang jajan selama seminggu. " Ogah, lebih baik aku jujur, kunci jawaban itu belum semestinya benar!" ucap aku sedikit emosi.

Akhirnya soal UN bahasa Indonesia sudah aku kerjakan semua. Enaknya kalau ada ujian gini, pulang sekolahnya bisa lebih cepat. Perutku mulai keroncongan. Aku harus pergi ke kantin untuk mencari makan. Tak sengaja ditengah jalan aku berpapasan dengan Aprilia. "Mau kemana, Pril?" tanya aku. "Ke kantin." jawab Aprilia. "Wah, kebetulan. aku juga mau kesana." Sambil jalan berdua, aku menanyakan gambar sketsa kemarin.

"Kemarin sudah kamu buka?"
"Sudah, Vin. Tapi yang pertama kali membuka ibuku."
"Aduh, sial!. digambar itu ada tulisan namaku." ucap aku dalam hati.
"Ada apa,Vin?" Aprilia melihatku sedikit penasaran.
"Gambarnya bagus gak?"
"Bagus, sih. Tapi, sayang. kemarin kena tetesan air hujan, jadi gambarnya agak lecek gitu."
"Ouh, gitu ya?" Dalam hati sedikit nyengsek.
"Vin, kayaknya aku langsung pulang. Takut ditinggal sama teman-teman."
"Iya, hati-hati di jalan."

Sebenarnya aku pingin nraktir dia makan. Tapi, apalah daya. Aku gak bisa memaksa jalan pikirannya. Terkadang Aprilia itu orangnya ngeselin juga. Udah capek-capek jalan ke kantin. Eh, gak taunya malah pingin pulang. Terpaksa aku makan sendirian di kantin sambil melihat pemandangan hamparan sawah yang indah.

Kalau ceritanya kayak gini. Lama-lama capek juga kalau berurusan sama cewek. Hobi main tenis meja sedikit berkurang gara-gara mikirin cewek. Untuk saat ini aku jarang berkomunikasi dengan Aprilia lagi. Buktinya, gambar yang aku berikan tidak di jaga dengan baik. Mungkin, dia tidak suka atau mungkin dia mau membuangnya ke tempat sampah, tapi dia malu mengatakannya secara langsung.

Tak seperti hari - hari biasanya. Rasa percaya diriku sedikit berkurang. Mungkin cewek selevel dia gak cocok sama aku. Apalagi dia anaknya Bu guru. Kalau aku cuma anaknya petani desa. Terkadang aku harus mengaca terhadap diriku sendiri. Ternyata masih banyak kekurangan yang aku miliki. Aku berharap suatu saat nanti bisa kuliah di Universitas terbaik yang ada di negara ini. Akan ku buktikan bahwa aku mampu bersaing dengan mereka.

Buat apa nilai UN tinggi kalau selama ini mereka hanya bisa menyontek kunci jawaban. Walaupun nilai UN ku paling rendah. Tapi, aku bangga bisa mengerjakan dengan jujur. Setelah UN rencana aku mau meneruskan di SMA paling favorit. Kebetulan sekolah ini membuka jalur tes tulis. Alhamdulillah aku bisa diterima di SMA Negeri 1 Demak. Sekolah ini sudah memiliki standar Nasional dan sudah menjadi RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional) itu dulu, sekarang sudah di hapus program itu.

Semenjak lulus SMP, aku jarang sekali berkomunikasi dengan Aprilia. Terdengar kabar dia pindah ke Surabaya ikut dengan budenya. Tiga tahun adalah waktu yang sangat lama bagiku. Selama tiga tahun itu aku sama sekali tidak pernah pacaran. Tak ada wanita lain secantik Aprilia. Hatiku sudah terpatri hanya untuk dirinya.

Dunia seolah dalam genggaman, ketika Facebook mulai merajalela waktu itu. Akupun membuat akun Facebook baru. Aku kasih nama "Julio Kevin Imoet Abiezt". Maklum, dulu masih bergelut di zaman alay. Sekarang yang kayak begituan udah insyaf. Aku mencari nama Aprilia lewat Facebook. Ketemunya malah cewek Papua. Aku nyari lagi lebih serius, ketemunya malah tante - tante. Aku cari lagi sampai ketemu tapi tidak ketemu juga. Pada akhirnya aku ingat satu nama unik yang pernah dia katakan waktu SMP dulu. Aku cari lagi dengan menambahkan nama "Sri" dibelakangnya. "Aprilia Sri Wahyuni". Ternyata benar ini bisa berhasil. Akupun mendapatkan akun facebooknya. Saat itu juga aku langsung menambahkan pertemanan dengannya. Selang satu hari dia menerima permintaan temanku. Dia inbox aku seperti ini. "Ini Kevin siapa ya?" tanya Aprilia. Aku menjawab, "Ini Kevin teman SMP dulu.", "Ouh, yang dulu pernah jadi Abang tukang bakso itu,kan?" , Waduh, kayaknya Aprilia sudah amnesia. Saat itu aku jelasin lebih detail lagi. "Bukan,Pril. Ini Kevin yang duduknya tepat di belakangmu!". Selama seminggu belum ada balasan darinya. Gak tau kenapa dia tiba - tiba menghilang begitu saja.

Terlihat foto di Facebooknya dia sedang berada di kebun binatang. Wajahnya tampak sedikit berubah. Pipinya yang dulu kurus. Sekarang sedikit tembem. Hidungnya semakin tirua. Rambutnya yang bergelombang, sekarang sudah lurus. Tak terasa dia sidab menjadi cewek dewasa. Dulu dia itu orangnya cupu banget. Aku lihat dari penampilanya. Kayaknya dia sudah berubah luar dan dalamnya.

Jumat, 03 November 2017

Episode 2 ( Mesophyta)

Setiap hari aku melamun. Terbayang dalam angan yang sangat jauh. Senyum manis Aprilia masih membekas dalam ingatanku. Kurang satu bulan lagi aku akan menghadapi Ujian Nasional. Setiap malam aku rajin belajar. Aku merasa ada yang masih mengganjal di dalam hati. Entah kenapa, akhir-akhir ini aku merasa ada yang aneh. Setiap kali aku belajar seperti ada yang mengusik di kepalaku.

Malam semakin larut, aku masih memegang senjata belajarku. Mengerjakan latihan soal sudah menjadi makanan sehari - hari. Perlahan mataku mulai mengantuk. Akupun tertidur di atas meja. Terlihat Aprilia membawa gaun putih yang sangat indah. Gaun itu terbuat dari bulu merpati. Putih, anggun dan mempesona. Dia datang membawa bunga anggrek berwarna merah. Tampak sebuah pot kecil terletak di atas rumah pohon. Aku dan Aprilia langsung naik ke atas. Tiba - tiba setelah sampai di puncak ketinggian, Aprilia terpeleset. Tanganku memegang erat Aprilia supaya tidak terjatuh. Tanganku sudah tidak kuat lagi menahanya. Aprilia terlihat panik. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkannya. Terdengar suara petir menyambar sangat keras. Akupun terkejut dan akhirnya Aprilia terjatuh dari atas rumah pohon. "Tidak......!". Teriak aku sekencang kencangnya. Saat itu aku langsung terbangun. Rupanya aku cuma bermimpi. Jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Aku bergegas sholat subuh. Setelah itu aku langsung mandi.

Di tengah perjalanan aku masih ingat mimpi buruk semalam. Aku takut kalau mimpi ini bisa jadi kenyataan. Suasana kelas terlihat sepi. Kalau jam istirahat biasanya mereka pergi ke kantin. Aku duduk sendirian di dalam kelas. Aku melihat Aprilia sedang bercakap - cakap dengan Bu Sri. Kayaknya mereka sudah saling kenal. Bu Sri memberikan nasi kotak kepada Aprilia. Tak lama kemudian Aprilia masuk ke dalam kelas. Dia melihatku dengan tatapan mata cuek. Sengaja aku menghampirinya.

"Lagi ngapain, Pril? tanyaku sambil merapikan rambut.
"Makan siang."
"Sudah kenal dekat sama Bu Sri?"
"Bu Sri itu ibuku."
"Ouh. Pantesan wajahnya mirip."

Sejenak aku menjeda percakapan ini. Terlihat Aprilia makan siang dengan lahap. "kamu udah makan?" tanya Aprilia sambil mengunyah makanan. "lagi puasa, Pril." Aprilia sedikit tersedak. "Beneran puasa?" Kayaknya dia sedikit tidak percaya dengan aku. "iya, Pril. Puasa senin-kamis." ujar aku dengan tatapan mata serius. "Hebat kamu,ya?" Aprilia memuji aku.

Tak lama kemudian jam istrahat sudah selesai. Teman - teman sudah memasuki kelas. Saat itu Pak catur sedang mengajarkan rumus cepat menjawab soal matematika. Walau sudah diterangkan panjang lebar, tapi aku masih belum paham. Sebenarnya yang salah itu gurunya atau aku sendiri yang malas belajar.

Aku hampir setengah tak percaya. Ternyata Aprilia itu anaknya Bu Sri. Selama ini aku naksir sama anaknya guru. Semakin lama aku semakin minder bergaul dengan Aprilia. Aku takut kalau dia bilang yang aneh - aneh tentang aku kepada ibunya.

Episode 8 mesophyta

Sekian lama aku menunggu. Puing-puing dedaunan layu di tepi jalan. Terhempas hilang bersama angin. Akankah sejarah bisa terulang kembali. Ak...