Hari ini aku berangkat ke kampus bersama August. Aku naik sepeda gunung berwarna merah. August mengayuh sepeda dengan cepat. Saat itu aku berpapasan dengan Aprilia. Dia berangkat ke kampus jalan kaki. Dia tidak sendirian. Ku lihat dia bersama wanita berambut ikal.
"Tumben jalan kaki, Pril?" tanya aku
"Iya,Vin. sambil olahraga."
"Ngomong - ngomong siapa temanmu itu?"
"Cie...kamu suka, ya?" Aprilia menyindirku
"Kamu tu aneh-aneh aja."
Mataku mulai mengantuk mata kuliah bahasa Inggris yang semula asyik kini berubah menjadi bad mood. Gak tau kenapa dosen berambut pirang ini membuatku jengkel. Cara dia mengajar berbeda dengan dosen-dosen yang lain. Dikit-dikit tugas. Padahal yang aku inginkan hanya bisa lancar ngomong bahasa Inggris. Kalau sekedar teori mah, bisa aku pelajari sendiri di rumah.
Sepulang kuliah aku langsung ngerjakan tugas makalah. Saat itu August sedang pergi. Aku sendiri di dalam kamar. Menatap layar monitor dengan tatapan serius. Tiba - tiba listrik mati secara mendadak. Saat itu aku lupa ngesave. Sia-sia aku ngerjakan tugas semalam suntuk. Waktu sudah semakin malam. Hujan deras turun tiada henti. August sejak dari tadi belum pulang. Aku sempat khawatir kalau terjadi apa-apa kepadanya. Aku telpon gak di angkat.
Terdengar suara langkah kaki menuju kamar kos. Kayaknya si August udah pulang.
"Tok tok tok...." Suara ketukan pintu tak seperti biasanya. Nadanya sedikit cepat.
"April?" aku terkejut. Tubuhnya basah kuyup. Sorot matanya terlihat berkaca-kaca. Dengan suara gugup dia berkata,
"A..a.. August kecelakaan!"
"Innalilahi wa Inna Ilaihi Raji'un."
" Ayo ikut aku ke rumah sakit."
Aku tak peduli dengan hujan. Tanpa menggunakan jas hujan aku pergi ke rumah sakit bersama April. Tubuhku langsung basah kuyup. Hatiku semakin cemas. Ternyata firasatku benar. Dari sejak pagi aku sering bad mood. Tapi ada sedikit kejadian aneh yang masih mengganjal di dalam hatiku. Kenapa April bisa tahu lebih dulu kalau August sedang kecelakaan?. Padahal selama ini August jarang sekali berkomunikasi dengannya. Aku sedikit cemburu dengan kejadian ini.
Tak lama kemudian aku dan April tiba di rumah sakit. Kondisi August saat ini masih berada di ruang UGD. Selang beberapa menit aku di panggil oleh dokter.
"Anda saudaranya?" tanya dokter sambil melihatku.
"Iya, Dok." aku berpura-pura menjadi saudaranya.
" Kalau Mbaknya ini pasti pacarnya." ujar Dokter. Saat itu aku langsung menyela pertanyaan aneh ini.
"Bukan, Dok. dia saudaranya juga." Terlihat tangan Aprilia mencubit pahaku.
Alhamdulillah kondisi August tidak separah yang aku bayangkan. Wajah gantengnya masih tetap exis. Lukanya tidak terlalu parah. Mungkin pas waktu jatuh dia cuma pingsan. Setahuku dia emang suka pingsan. Sorot mata Aprilia terlihat berkaca-kaca memandangi wajah August. Terlihat August masih nyenyak tidur.
"Sedekat apa kamu dengan August?"
"Dia sudah aku anggap sebagai saudara kandung."
"Kok bisa!" hatiku rasanya seperti di masak mentah-mentah.
Tak lama kemudian August mulai sadar. Matanya membuka sedikit demi sedikit. Wajahnya terlihat lesu dan bersedih. Aku dan April mencoba untuk menenangknya.
"Aku dimana, Vin?" tanya August
"Kamu sekarang sudah ada di surga." jawabku nyleneh.
"Hah!, Jadi aku sudah mati!" aku dan April tertawa terbahak-bahak. Akhirnya suasana menjadi cair. August ternyata tahu kalau kami berdua sedang bercanda.
Bagiku sahabat hanyalah seorang sahabat. Terkadang sahabat bisa membuatku tenang dalam kedamaian. Akhir - akhir ini aku mencoba menjauh dengan mereka. Gak tau kenapa aku pingin cari sahabat yang lain. August dan April terlihat sangat akrab, melebihi keakrabanku dengan dia. Aku sedikit cemburu melihat dia sering berduaan.
Pernah suatu hari aku tanya kepada August, "Kamu suka sama April?" August terlihat gugup. Dia menjawab, "Suka sebagai apa dulu?". sejenak aku terdiam. "Kalau suka sebagai pacar gimana?"
" Enggak lah. Masak aku harus menjadi pagar makan tanaman." ujar August.
"Maksud, Lo?"
"Aku sebenarnya gak mau nyakitin hatimu, Vin. Tapi sekarang lebih baik aku jujur. Akhir-akhir ini April suka ngajak aku belajar bareng. Kayaknya dia sedikit ada rasa sama aku."
"Kok bisa gitu, Vin!" dalam hati terasa nyengsek.
"Udah deh, kamu kan udah dewasa. Anggap aja gak ada apa-apa. Aku tahu kok perasaanmu."
"Gak bisa gitu, Vin?. Aku jauh-jauh dari Semarang ke Surabaya hanya pingin ketemu dengan dia!". Mataku mulai berkaca-kaca.
"Urusan jodoh Allah yang ngatur. Agamamu Islam kan?. Tuhan Yesus juga mengatakan seperti itu." ujar Kevin.
"Kayaknya bener juga ucapanmu. Mulai sekarang aku mau fokus kuliah dulu. Akan aku buktikan kalau aku adalah cowok ksatria."
Akhir-akhir ini aku sengaja menjaga jarak dengan Aprilia. Sebenarnya August sudah tahu tentang perasaanku. Selama ini Aprilia belum sama sekali mengerti perasaanku. Di dalam hatinya seperti ada ruang hampa. Sepertinya dia pernah mengalami sakit hati yang sangat luar biasa. Sejak April dekat dengan August. Persahabatan kami bertiga sedikit retak. Sekarang aku sudah menginjak semester 7. Banyak sekali tugas kuliah yang terbengkalai. Makanan sehari-hariku hanyalah tugas dan tugas. Ngerjakan penelitian hampir setiap hari. Lama - lama aku bosan juga dengan tugas-tugas ini.
Kalau ada waktu selang aku gunakan untuk menulis karangan buku. Barang kali bisa aku terbitkan terus aku dapat royaltinya. Sejak SMP aku memang hobi menulis. Aku masih ingat waktu aku di puji oleh Bu Sri Wahyuni. "Kevin, kamu berbakat menjadi seorang penyair." Sejak saat itulah kemampuan menulis ku semakin berkembang sampai saat ini. Mungkin motivasi yang diberikan ibunya April ini bisa membangkitkan semangat ku lagi. Tapi sayang anaknya yang aku taksir malah pindah ke lain hati, yaitu sahabatku sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar