Pagi buta aku terbangun dari mimpi. Rasanya males berangkat kuliah. Dulu waktu pertama kali masuk kampus ini aku selalu semangat. Tapi lama kelamaan bosan juga di kampus. Hari ini aku bolos kuliah. Paling cuma nitip absen sama temen. Aku pergi ke perpustakaan mencari novel Harry Potter edisi terbaru. Tak sengaja aku bertemu dengan Aprilia. Dia duduk bersama temannya. Terlihat dia menggunakan kaos berwarna pink. Aku masih ragu. "Samperin apa kagak ya?" ucapku dalam hati. Tak lama kemudian aku berubah pikiran. Tanpa rasa ragu aku samperin Aprilia.
"April." ucapku dengan suara lirih.
"Kevin?" April melihatku dengan tatapan mata aneh.
"Boleh duduk disini?"
"Silahkan."
Matanya bagaikan kelopak bunga anggrek. hampir 9 tahun aku kenal dengan April, namun kecantikan wajahnya masih menyihir hatiku. Saat itu aku beranikan diri untuk menanyakan hubungan dia dengan August.
"Pril, kamu suka sama August?"
"Apa gak ada pertanyaan lain selain itu." Terlihat April sedikit murung
"Maaf, ya?" sejenak aku berhenti bertanya
"Gak usah maaf, kamu gak salah."
Ternyata pertanyaanku tadi membuat Aprilia badmood. Selera membacanya jadi berkurang. Terlihat dia hanya membolak-balik kan buku tidak jelas.
"Ngomong-ngomong itu siapa, Pril?" tanyaku sambil melihat seorang cewek yang duduk disebelahnya.
"Ouh, ehem, ehem." April pura - pura batuk. tiba - tiba dia senyam senyum sendiri.
"Ada apa, Pril?" aku masih penasaran dengan tingkah anehnya.
"Kamu kenalan sendiri atau aku yang kenalin?" Aprilia menawarkan dua pilihan.
"Kamu aja deh, Pril."
Sepertinya ada hal aneh yang aku rasakan. April mulai beraksi. Dia melempar kertas kosong yang sudah dibuat dalam bentuk bulat. Kertas itu langsung dilempar ke arah temanya. Sontak. Temanya langsung kaget.
"Kalau baca buku yang serius." celetuk April.
"Sudah serius dari tadi."
"Serius darimana, ku lihat kamu sering ngantuk."
"Iya, Pril. Tadi malem nemenin papa nonton bola."
"Kenalin teman gue. Namanya Julio Kevin." Saat itu aku hanya bisa cengar cengir di hadapannya.
"Nama kamu siapa?" tanyaku sambil merapikan buku.
"Namaku Julia Rahman." Sejenak Aprilia melerai pembicaraan.
"Namanya kok hampir sama. Pasti kalian lahir di bulan Juli, kan?" aku dan Julia saat itu hanya bisa diam.
"Belum tentu ye..., Emang kamu tahu darimana?" Julia membantah tebakan Aprilia.
"Cie...kalian kayaknya cocok."
"Maksud lho?" wajah Julia mulai memerah.
"Pril, aku pamit dulu, ya?"
Tak lama kemudian aku langsung cabut. Sudah jatuh ketiban tangga pula. Hatiku sudah sakit, eh malah tambah disakitin lagi. Sepertinya Aprilia bahagia banget bisa membully aku dengan Julia. Sejak peristiwa tadi siang. Aku kembali berubah pikiran. Mulai besok aku gak mau ketemu dia lagi.
Senja telah tiba. Aku harus pulang ke kos kosan. Cuaca sedikit mendung. Aku baru ingat kalau aku punya jemuran disana. Aku takut kalau pakaianku terkena hujan. Saat itu aku mengayuh sepeda dengan kecepatan penuh. Akhirnya sampai juga di kos kosan. Terlihat August sedang menonton TV.
"Baru pulang, Vin?" tanya August
" Iya, ada rapat BEM tadi."
"Kamu ikutan organisasi gak jelas itu?" pernyataan August membuat kupingku sedikit panas.
" Maksud lho gak jelas gimana!"
" Emang gak jelas,kan. Sering ngadain demo. Tapi buktinya apa?, Harga sembako dan tetek bengeknya masih tetep mahal."
"Iya, juga, ya?" ucap aku sambil melepas pakaian.
Punya temen seperti August emang harus ekstra sabar. Dia itu seorang kritikus suka makan tikus. Kalau ada hal - hal yang aneh dia pasti angkat bicara. Anaknya emang suka ngajak orang berdebat. Tapi kelemahan hanya satu. Dia paling takut dengan kecoa. "Astaga, ada kecoa, Gus!" Dia langsung lari keluar kamar.
"Kamu belum mandi?" tanyaku
"Males, lagian besok libur."
"Dasar pemalas."
"O iya, Vin. Gua baru inget. Tadi ada cewek ngasihkan surat untuk kamu."
"Ah, ngibul, lho?" saat itu aku sempet gak percaya.
"Suer, demi tuhan Yesus!" Kalau udah bawa - bawa nama Yesus kayaknya dia serius.
"Ceweknya cantik apa jelek, Gus."
"Cantik dan sexy , bro."
Aku sendiri masih penasaran dengan cewek ini. Malam semakin larut. Terlihat August sudah tertidur pulas. Diam-diam aku membuka isi surat ini. Di dalamnya ada semacam gambar love yang dipasang didalamnya. Kurang lebih isinya seperti ini :
Dear : Kevin
Pertama kali aku kenal kamu, rasanya hatiku berdetak kencang. Aku gak nyangka bulan kelahiran kita bisa sama. Aku sangat mengagumi ketampanannya. Maukah kamu menjadi pacar pertamaku. Selama ini aku gak pernah pacaran. Baru kali ini aku ketemu kamu dan langsung jatuh cinta kepadamu
Salam jari manis,
Julia Rahman
Aku sedikit gak percaya. Ternyata cewek ini agresif juga sama aku. Baru kenal aja tadi siang. Sorenya udah buat surat segala. Kayaknya ada orang yang sengaja membuat surat ini. Tapi, aku masih belum tahu pelaku yang sebenarnya. Jarang - jarang aku bisa dapet surat cinta seperti ini. Biasanya aku seringnya di kasih surat tagihan listrik. Itu aja bayarnya kadang nyicil.
Keesokan harinya aku bertemu dengan Julia Rahman. Ku lihat wajahnya senyam senyum sendiri gak jelas. Aku ajak dia ngobrol empat mata disana. Tanpa basa - basi lagi aku menunjukkan surat cinta ini.
"Apakah surat ini dari kamu?" Aku bertanya dengan serius. Melihat surat yang aku tunjukkan, Julia langsung terkejut. Dengan penuh keyakinan dia menjawab. "Bukan! , Serius bukan aku. Tulisanku gak seperti itu." Julia menunjukkan tulisan aslinya dan ternyata benar, bukan dia pelakunya.
"Kayaknya tulisan itu gak asing, deh!" Sesekali Julia memandangi surat ini.
" Terus siapa pelaku sebenarnya!" tanyaku sedikit kesal.
"Kayaknya ada orang yang gak suka sama kamu deh, Vin." Setelah itu Julia langsung cabut.
Namanya Julia Rahman , gadis asal kota Bandung ini lahir di bulan Juli. Bulan lahirnya sama dengan aku. Orangnya baik, tapi agak culun,sih?. Kulitnya putih sawo matang. Kenapa harus sawo matang, kalau ada sawo yang mentah. Kan, sama-sama sawo. Sejak kenal dengan aku dia sedikit menjaga jarak. Dia non muslim, agama yang dia anut adalah agama Kristen. Gak tau dia ikut agama Kristen yang Katholik atau protestan. Sama kalau di dalam agama Islam juga ada dua yaitu Islam KTP atau Islam beneran.
Hari Minggu yang cerah. Terlihat August masih tidur. Semalem habis nonton konser Tipe-X di lapangan Brawijaya Surabaya. Mungkin dia masih kecapekan.
"Gust...,gust..., Bangun, Gust!" Dia masih tertidur pulas. Aku harus punya cara untuk ngebangunin dia. Aku tutup lubang hidungnya selama satu menit. Tak lama kemudian dia langsung bangun. Wajahku memar ditabok sama dia.
" Ayo bangun, bukanya hari ini kamu ada jadwal sembahyang di gereja?"
"Astaga, jam berapa, Vin."
"Jam 8 pagi." August langsung ganti baju. Tanpa mandi dan gosok gigi dia langsung tancap gas ke gereja.
Bagiku semua sabahat itu sama. Aku gak peduli dia agamanya apa. Bagiku sahabat terbaik adalah sahabat yang mau menerima kelebihan dan kekurangan kita.
Agamaku Islam dan Agamanya August Kristen. Aku dan dia hidup satu Kos bersama. Dia membaca Kitab Injil sedangkan aku membaca Kitab Suci Al Qur'an. Terkadang kami berdua saling memberi motivasi satu sama lainnya. Kalau adzan subuh biasanya dia yang ngebangunin aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar