Gurun Sahara pindah di kota Surabaya. Keringat bercucuran dimana-mana. Panas matahari membakar tubuhku. Mereka bagaikan perompak yang suka mengatur ini dan itu. Aku terkapar di tengah lapangan. Semuanya berbaris rapi seperti ikan pindang yang siap di panggang. Hari pertama ospek ternyata sangat melelahkan. Aku benci ospek. Suatu saat kalau aku jadi rektor disini, acara ospek akan aku hapus. Bukanya mendidik mahasiswa malah membuat mereka merasa rendah martabatnya.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Kegiatan ospek sudah berakhir. Saat itu aku sedang berada di perpustakaan. Terlihat dari belakang ada wanita memakai kaos pink. Tiba-tiba secara tak sengaja wanita tersebut menabrakku. Buku yang dibawanya kocar kacir kemana-mana. Lantas, aku bantu dia untuk mengambilnya.
"Kevin?"
"April?"
"Kevin?"
"April?"
" Iya, aku April!"
"Kayaknya aku mimpi,deh. Coba cubit aku." April mencubitku dengan sangat keras. "Aduh.....!, Atitt.!" Teriak aku sekeras-kerasnya. Semua orang yang ada di perpustakaan melihat tingkah konyolku. Tapi, aku cuek saja, yang penting hari ini aku bisa ketemu dengan April.
"kok bisa kesini?" tanya Aprilia sambil merapikan buku.
"Kamu juga kok bisa disini?" aku balik bertanya.
"Aku sayang sama kamu, Pril."
"Kamu tuh aneh-aneh saja."
"Beneran, aku serius, Pril."
"Sayang sebagai sahabat, kan?" Sejenak aku terdiam. Mungkin April benar. Selama ini dia menganggapku sebagai sahabat. Padahal sebenarnya aku sangat mencintainya.
Gemerlap bintang di langit hangatkan suasana. Banyak orang-orang melepas kegalauanya di tempat ini. Berteman dengan segelas kopi panas bercampur tepung tapioka. Rasanya cukup aneh. Mungkin ini pertama kalinya aku merasakan kopi rasa tepung. Gara-gara kopi, semalam aku gak bisa tidur. Padahal besok ada mata kuliah bahasa Inggris. Aku tidur cuma tiga jam. Setelah itu aku bangun pagi, langsung gosok gigi terus mandi tapi gak ada air terpaksa harus antri.
Selama di Surabaya aku tinggal di kos-kosan ukuran 4x2. Kebayangkan sempitnya kayak apa. Satu ruangan ini aku gunakan untuk tidur, masak dan mandi. Terkadang aku bisa tertidur di kamar mandi. Kadang juga masak di tempat tidur. Pokoknya serba kebalik. Di kos kosan aku gak sendiri. Disini aku ditemani oleh pria berkulit putih, matanya sipit. Tubuhnya kurus kering. Rambutnya ikal. Namanya August Hermansyah. Dia lahir di Bandung. Nyokap dan Bokapnya sudah lama berpisah alias cerai. Sejak ditinggal Bokap. August tinggal bersama nyokapnya. Dia harus rela meninggalkan nyokap demi cita-cita mulianya. Suatu saat dia pingin menjadi dokter. Kebetulan dia sedang menempuh pendidikan kedokteran di UNAIR.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar