Setiap hari aku melamun. Terbayang dalam angan yang sangat jauh. Senyum manis Aprilia masih membekas dalam ingatanku. Kurang satu bulan lagi aku akan menghadapi Ujian Nasional. Setiap malam aku rajin belajar. Aku merasa ada yang masih mengganjal di dalam hati. Entah kenapa, akhir-akhir ini aku merasa ada yang aneh. Setiap kali aku belajar seperti ada yang mengusik di kepalaku.
Malam semakin larut, aku masih memegang senjata belajarku. Mengerjakan latihan soal sudah menjadi makanan sehari - hari. Perlahan mataku mulai mengantuk. Akupun tertidur di atas meja. Terlihat Aprilia membawa gaun putih yang sangat indah. Gaun itu terbuat dari bulu merpati. Putih, anggun dan mempesona. Dia datang membawa bunga anggrek berwarna merah. Tampak sebuah pot kecil terletak di atas rumah pohon. Aku dan Aprilia langsung naik ke atas. Tiba - tiba setelah sampai di puncak ketinggian, Aprilia terpeleset. Tanganku memegang erat Aprilia supaya tidak terjatuh. Tanganku sudah tidak kuat lagi menahanya. Aprilia terlihat panik. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkannya. Terdengar suara petir menyambar sangat keras. Akupun terkejut dan akhirnya Aprilia terjatuh dari atas rumah pohon. "Tidak......!". Teriak aku sekencang kencangnya. Saat itu aku langsung terbangun. Rupanya aku cuma bermimpi. Jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Aku bergegas sholat subuh. Setelah itu aku langsung mandi.
Di tengah perjalanan aku masih ingat mimpi buruk semalam. Aku takut kalau mimpi ini bisa jadi kenyataan. Suasana kelas terlihat sepi. Kalau jam istirahat biasanya mereka pergi ke kantin. Aku duduk sendirian di dalam kelas. Aku melihat Aprilia sedang bercakap - cakap dengan Bu Sri. Kayaknya mereka sudah saling kenal. Bu Sri memberikan nasi kotak kepada Aprilia. Tak lama kemudian Aprilia masuk ke dalam kelas. Dia melihatku dengan tatapan mata cuek. Sengaja aku menghampirinya.
"Lagi ngapain, Pril? tanyaku sambil merapikan rambut.
"Makan siang."
"Sudah kenal dekat sama Bu Sri?"
"Bu Sri itu ibuku."
"Ouh. Pantesan wajahnya mirip."
Sejenak aku menjeda percakapan ini. Terlihat Aprilia makan siang dengan lahap. "kamu udah makan?" tanya Aprilia sambil mengunyah makanan. "lagi puasa, Pril." Aprilia sedikit tersedak. "Beneran puasa?" Kayaknya dia sedikit tidak percaya dengan aku. "iya, Pril. Puasa senin-kamis." ujar aku dengan tatapan mata serius. "Hebat kamu,ya?" Aprilia memuji aku.
Tak lama kemudian jam istrahat sudah selesai. Teman - teman sudah memasuki kelas. Saat itu Pak catur sedang mengajarkan rumus cepat menjawab soal matematika. Walau sudah diterangkan panjang lebar, tapi aku masih belum paham. Sebenarnya yang salah itu gurunya atau aku sendiri yang malas belajar.
Aku hampir setengah tak percaya. Ternyata Aprilia itu anaknya Bu Sri. Selama ini aku naksir sama anaknya guru. Semakin lama aku semakin minder bergaul dengan Aprilia. Aku takut kalau dia bilang yang aneh - aneh tentang aku kepada ibunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar