Buaian kasih ibu
Sejak saat itu aku merasa bersalah.
Aku menangis tak sadarkan diri. Aku merasa bersalah dengan semua yang terjadi.
Pertemuan antara aku dan kamu sangatlah cepat. Tak ada kesempatan bagiku untuk
mengiba. Matahari menangisi kepulanganya. Bulan dan bintang tak henti –
hentinya meneteskan air mata. Aku bagaikan debu yang berterbangan. Aku pasrah
dengan kejadian ini. Terkadang aku berpikir kalau tuhan itu tidak adil.
Terlihat semua orang bahagia memandang dunia. Sementara aku melihat dunia bagaikan
ruang di dalam kegelapan.
Jika aku punya mesin waktu. Aku
pingin sekali kembali lagi ke masa lalu. Saat itu aku masih dalam buaianya.
Selimut bergambar hello kitty inilah yang menjadi saksi bisu. Malam ini tubuh
mungilku tiba – tiba menggigil. Angin malam berhembus dari pintu jendela. Hujan
deras mengguyur tanpa henti. Suara petir menggelegar keras. Lampu rumah tiba –
tiba padam. Akupun menangis sekeras – kerasnya. Suasana kembali terang ketika
nenek membawakan lentera kecil terbuat dari pohon jarak.
“Menengo tole. Udane wes mandek.”
Ucap nenek Fatimah dengan bahasa jawa. Kurang lebih artinya seperti ini, “Diam
nak. Hujanya sudah reda.” Nenek Fatimah ini orangnya sangat sabar. Dialah nenek
yang paling sayang kepadaku. Perlahan tangisanku mulai mereda. Aku merasa ada
pelukan hangat di tubuhku. Semakin lama pelukan ini semakin erat. Kasih sayang
yang ibu berikan membuatku tersihir malam ini. Mata sayupnya seakan layu ketika
malam semakin larut. Tak ada satupun suara yang keluar. Senyap, sunyi dan sepi.
Mungkinkah ini epilog terakhir dalam
episode kehidupan ini. Aku merasakan sesuatu yang belum pernah aku rasakan.
Jiwa ini terkapar tak berdaya. Pelukan hangat itu sudah lama aku nantikan. Kini
aku sudah beranjak dewasa. Aku ingin pelukan hangat ini kembali lagi kepadaku.
Namun, sayang seribu sayang. Kini tubuhnya tiba – tiba melemah tak berdaya. Melihat
kondisi seperti ini, hatiku sangat terpukul. Sejenak aku pergi ke suatu tempat
yang sepi. Aku berdiri menghadap ke utara. Melihat hamparan sawah terbentang
luas. Langit cerah terang bernderang. Akupun menatap ke atas sambil berkata.
“Tuhan!. Lihatlah aku disini!”
“Aku ini hanya hambaMu yang lemah.”
“Tuhan!. Dengarkanlah hambaMu
disini!”
“Langit dan bumi menjadi saksi
pertemuan ini.”
“Hanya ada engkau dan aku tak ada
yang lain.”
“Sampai kapan aku akan seperti ini.”
“Apakah ini hanya sebuah hukuman
semata?”
“Apakah ini hanya ujian semata?”
“Apakah ini pertanda engkau benci
kepada kami?”
“Apakah dengan semua ini engkau
mencintai kami?”
“Apalah daya Tuhanku. Aku hanyalah
sebutir debu yang tak ada gunanya.”
“Aku menyesal dengan kehidupanku.”
“Akhir – akhir ini aku sering
mencampakkanMu.”
“Mungkinkah engkau masih
mencintaiku?”
“Jika engkau masih sayang padaku.
Berikan kado terindah untuk diriku.”
Setidaknya sekarang aku sudah mulai
lega. Tak perlu curhat kepada teman atau sanak saudara. Cukup hanya Allah SWT
sebagai teman curhatku. Tak perlu mengeluhkan masalah kehidupan kepada orang
lain. Cukup hanya Allah SWT dan aku yang tahu. Sebaik – baiknya orang adalah
mereka yang pandai mensyukuri kehidupan ini. Harta dan benda bagi diriku
hanyalah titipan semata. Tabungan kita yang ada di bank hanya catatan kertas
semata. Lantas, apa yang bisa kita banggakan?.
Tak ada yang bisa mengalahkan kasih
sayang seorang ibu kepada anaknya. Mereka berdua bagaikan mutiara yang
bersinar. Hingar binar dunia tak mampu mengalahkanya. Sehebat apapun dan sekuat
apapun seorang anak masih kalah dengan kasih sayang seorang ibu. Pernahkah
waktu anda masih kecil dimarahin ibumu?. Sebenarnya kemarahan inilah yang
menjadi bukti otentik kalau seorang ibu itu sangat sayang kepada anaknya.
Dunia ini hanya sebatas gambaran
semata. Dunia ini hanya tempat persinggahan. Tak ada yang abadi di dunia ini.
Keabadian hanya milik tuhan semata. Ketika tuhan sayang kepada hambanya. Maka
ujian yang sangat besar akan ditimpakan kepadanya. Mungkinkah saat ini tuhan
sudah rindu dengan kehadiran ibuku. Wajahnya terlihat cerah dan bersemangat.
Menjalani hari demi hari penuh dengan kesabaran. Beruntung aku punya seorang
adek perempuan yang sangat hebat. Namanya Rika dan Sofi. Dua srikandi inilah
yang selalu menemani ibuku. Mereka berdua bagaikan malaikat kecil yang datang
secara tiba – tiba di dalam mimpiku.
Sudah satu bulan berlalu. Aku masih
disibukkan dengan pekerjaan kantor. Setiap hari aku bekerja tiada henti. Di
malam hari aku harus pergi mencari kitab suci. Mengembara bagaikan kuda yang
tak kenal lelah. Selama perjalanan mencari kitab suci, mata ini secara spontan
mengeluarkan air mata. Terbayang seorang ibu bersama kedua anaknya yang saat
ini sedang bercumbu dengan tuhanya. Aku bersyukur sekali dengan ujian ini. Aku
sangat beruntung dengan kejadian ini.
Sebagai mahasiswa semester pertama.
Aku harus rajin berangkat kuliah. Ditambah tugas kuliah yang menumpuk. Aku
tidak merasakan beban yang berat ada di dalam diriku. Aku menganggap semua ini
hanyalah sandiwara belaka. Batu di dalam gua saja bisa berlubang terkena
tetesan air semata. Sama halnya seperti diriku. Aku hanyalah batu yang tak bisa
apa – apa. Ujian dan cobaan yang aku hadapi bagaikan air yang sedang menetes.
Secara terus menerus air itu menetes. Tetesan air itulah yang membuat batu ini
berlubang. Tetesan air itulah yang membuatku diriku berubah dan bertahan.
Sudah lama aku tidak berjumpa dengan
ibu. Pelukan hangatnya masih terasa sampai saat ini. Walau terpisah jarak yang
cukup jauh. Namun mata batinku bisa merasakan. aku sangat dekat dengan ibu. Ku
lihat dan ku pandang foto ibu yang tersimpan di dalam dompet. Wajahnya masih
sama seperti yang dulu. Orangnya asyik dan mudah sekali bergaul. Andaikan aku
bisa kembali ke masa lalu. Hal pertama yang aku lakukan adalah. “tidur di
pangkuan ibu”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar