Masihkah bunga yang layu bisa tumbuh
lagi. Ketika nafas sudah berhenti akankah bisa hidup lagi. Secepat itukah
kehidupan yang fana ini. Aku berjalan dan terus berjalan. Mengarungi samudera
kehidupan. Menepis dahsyatnya ombak. Melawan arus paradigma kehidupan. Aku bagaikan
kapas yang berterbangan tanpa arah. Lemah gemulai tak berdaya. Jika waktu bisa
di putar kembali. Aku akan mengerahkan seluruh jiwaku. Mencoba menelusuri
rahasia sang waktu. Meraba kehampaan yang sudah lama hilang. Mengingat peristiwa pada masa lalu.
Rembulan tampak riang gembira. Padahal di dalam hatinya tersembunyi luka. Terdengar suara riuh jeritan hati seorang ibu. Menatap masa lalunya yang amat pahit. Perjalanan hidupnya seakan kosong. Duduk bersimpuh seorang diri. Melihat panorama bintang malam ini. Datanglah seseorang menemui dirinya. Tubuhnya gagah perkasa. Memakai baju berwarna putih emas. Tampak pada lengan kiri dan kanan terdapat luka bekas kecelakaan. Terlihat darah yang mengalir cukup deras. Sang ibu tak mampu menahan air matanya. Beruntung saat itu anak laki - laki semata wayangnya bisa selamat tanpa ada bekas luka.
"Sejak pagi tadi perasaanku sudah cemas." tutur ibunda sambil mengkompres bekas luka suaminya.
"Maafkan aku. mungkin ini semua sudah takdir tuhan." ucap ayahanda yang meringis kesakitan.
"Tak usah meminta maaf. Syukur anakmu bisa selamat."
Andaikan bulan bisa aku raih. Akan ku redupkan cahaya terangnya. Sinar rembulan ini tak pantas untuknya. Purnama yang indah hanya pantas untuk ibunda tercinta. Dialah yang menerangi aku dalam kegelapan. Hanya dialah yang bisa membuat kebahagiaan hidup dalam sebuah keluarga. Walau halangan dan rintangan kerap kali menerjang. Namun, dengan keteguhan hatinya ia mampu bertahan.
Delima cinta terpatri dalam ingatan. Tak mungkin aku melupakanya begitu saja. Perjuanganmu masih belum berakhir. Menaklukkan dunia yang penuh dengan ilusi. Seribu episode sandiwara telah engkau lalui. Menerjang badai menembus mimpi. Tak ada batasan waktu. Yang ada hanyalah kepastian. Menunggu atau merebah dalam kepiluan. Malam ini aku merasa bahagia. Menu makanan favorit tersedia di atas meja. Ayah dan ibunda saling bercakap riang. Aku masih belum mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Sesuap nasi meluncur bagaikan pesawat terbang. Dengan telaten dan kesabaranya ibunda menyuapiku dengan rayuan konyolnya.
Malam ini aku menangis tiada henti. Tiba - tiba tubuh mungilku menggigil. Ibuku terlihat kebingungan kesana kemari. Menunggu sang ayah yang tak kunjung pulang. Waktu senja telah tiba. Kecemasan ini semakin menjadi. Ibuku tak kuat menahan tangis. Air matanya menetes tepat di wajahku. Terdengar suara ketukan pintu rumah. "Tok , tok , tok." Ibuku berharap ayah datang. Setelah di buka, ternyata bukan ayah. Ibuku sangat kecewa. Salah satu teman ayah memberi kabar kalau sepeda yang di kendarainya mogok di jalan.
"Saya boleh minta tolong, Pak Kamto?" ucap ibu kepada Pak Kamto teman ayah tadi.
"Ada apa, Bu?" Jawab Pak Kamto yang turut prihatin.
"Anak saya mau tak bawa ke bidan, tapi tak ada mengantar kesana."
"Sakit apa anaknya, Bu."
"Tubuhnya tiba - tiba menggigil kedinginan."
"Mohon maaf bu. Saya setelah ini mau kondangan."
"Ya sudah tidak apa - apa, Pak."
"Gimana kalau ibu saya pinjami sepeda saya?"
"Boleh Pak. Terimakasih banyak."
Saat itu ibu mengayuh sepeda sejauh 5 kilo meter. Hujan yang sangat deras tak menjadi penghalang. Ibu memakai jas hujan besar sambil memayungi tubuh mungilku. Percikan air hujan jatuh di wajahku. Keringat mengalir deras di sekujur wajah. Perjuangan seorang ibu demi kesembuhan anaknya. Andaikan dunia ini bisa aku genggam. Akan aku serahkan dunia seisinya ini kepada ibuku. Kasih sayangnya melebih batas logika. Dia tidak pernah mengeluhkan suatu keadaan. Dia tetap mensyukuri kehidupan ini yang terkadang tak sejalan dengan keinginan hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar