Sabtu, 23 September 2017

Bingkai masa lalu



Masihkah bunga yang layu bisa tumbuh lagi. Ketika nafas sudah berhenti akankah bisa hidup lagi. Secepat itukah kehidupan yang fana ini. Aku berjalan dan terus berjalan. Mengarungi samudera kehidupan. Menepis dahsyatnya ombak. Melawan arus paradigma kehidupan. Aku bagaikan kapas yang berterbangan tanpa arah. Lemah gemulai tak berdaya. Jika waktu bisa di putar kembali. Aku akan mengerahkan seluruh jiwaku. Mencoba menelusuri rahasia sang waktu. Meraba kehampaan yang sudah lama hilang. Mengingat peristiwa pada masa lalu.

Rembulan tampak riang gembira. Padahal di dalam hatinya tersembunyi luka. Terdengar suara riuh jeritan hati seorang ibu. Menatap masa lalunya yang amat pahit. Perjalanan hidupnya seakan kosong. Duduk bersimpuh seorang diri. Melihat panorama bintang malam ini. Datanglah seseorang menemui dirinya. Tubuhnya gagah perkasa. Memakai baju berwarna putih emas. Tampak pada lengan kiri dan kanan terdapat luka bekas kecelakaan. Terlihat darah yang mengalir cukup deras. Sang ibu tak mampu menahan air matanya. Beruntung saat itu anak laki - laki semata wayangnya bisa selamat tanpa ada bekas luka.

"Sejak pagi tadi perasaanku sudah cemas." tutur ibunda sambil mengkompres bekas luka suaminya. 
"Maafkan aku. mungkin ini semua sudah takdir tuhan." ucap ayahanda yang meringis kesakitan.
"Tak usah meminta maaf. Syukur anakmu bisa selamat." 

Andaikan bulan bisa aku raih. Akan ku redupkan cahaya terangnya. Sinar rembulan ini tak pantas untuknya. Purnama yang indah hanya pantas untuk ibunda tercinta. Dialah yang menerangi aku dalam kegelapan. Hanya dialah yang bisa membuat kebahagiaan hidup dalam sebuah keluarga. Walau halangan dan rintangan kerap kali menerjang. Namun, dengan keteguhan hatinya ia mampu bertahan. 

Delima cinta terpatri dalam ingatan. Tak mungkin aku melupakanya begitu saja. Perjuanganmu masih belum berakhir. Menaklukkan dunia yang penuh dengan ilusi. Seribu episode sandiwara telah engkau lalui. Menerjang badai menembus mimpi. Tak ada batasan waktu. Yang ada hanyalah kepastian. Menunggu atau merebah dalam kepiluan. Malam ini aku merasa bahagia. Menu makanan favorit tersedia di atas meja. Ayah dan ibunda saling bercakap riang. Aku masih belum mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Sesuap nasi meluncur bagaikan pesawat terbang. Dengan telaten dan kesabaranya ibunda menyuapiku dengan rayuan konyolnya. 

Malam ini aku menangis tiada henti. Tiba - tiba tubuh mungilku menggigil. Ibuku terlihat kebingungan kesana kemari. Menunggu sang ayah yang tak kunjung pulang. Waktu senja telah tiba. Kecemasan ini semakin menjadi. Ibuku tak kuat menahan tangis. Air matanya menetes tepat di wajahku. Terdengar suara ketukan pintu rumah. "Tok , tok , tok." Ibuku berharap ayah datang. Setelah di buka, ternyata bukan ayah. Ibuku sangat kecewa. Salah satu teman ayah memberi kabar kalau sepeda yang di kendarainya mogok di jalan. 

"Saya boleh minta tolong, Pak Kamto?" ucap ibu kepada Pak Kamto teman ayah tadi.
"Ada apa, Bu?" Jawab Pak Kamto yang turut prihatin.
"Anak saya mau tak bawa ke bidan, tapi tak ada mengantar kesana."
"Sakit apa anaknya, Bu."
"Tubuhnya tiba - tiba menggigil kedinginan." 
"Mohon maaf bu. Saya setelah ini mau kondangan."
"Ya sudah tidak apa - apa, Pak."
"Gimana kalau ibu saya pinjami sepeda saya?"
"Boleh Pak. Terimakasih banyak."

Saat itu ibu mengayuh sepeda sejauh 5 kilo meter. Hujan yang sangat deras tak menjadi penghalang. Ibu memakai jas hujan besar sambil memayungi tubuh mungilku. Percikan air hujan jatuh di wajahku. Keringat mengalir deras di sekujur wajah. Perjuangan seorang ibu demi kesembuhan anaknya. Andaikan dunia ini bisa aku genggam. Akan aku serahkan dunia seisinya ini kepada ibuku. Kasih sayangnya melebih batas logika. Dia tidak pernah mengeluhkan suatu keadaan. Dia tetap mensyukuri kehidupan ini yang terkadang tak sejalan dengan keinginan hati. 





Buaian kasih ibu



Buaian kasih ibu

Sejak saat itu aku merasa bersalah. Aku menangis tak sadarkan diri. Aku merasa bersalah dengan semua yang terjadi. Pertemuan antara aku dan kamu sangatlah cepat. Tak ada kesempatan bagiku untuk mengiba. Matahari menangisi kepulanganya. Bulan dan bintang tak henti – hentinya meneteskan air mata. Aku bagaikan debu yang berterbangan. Aku pasrah dengan kejadian ini. Terkadang aku berpikir kalau tuhan itu tidak adil. Terlihat semua orang bahagia memandang dunia. Sementara aku melihat dunia bagaikan ruang di dalam kegelapan. 

Jika aku punya mesin waktu. Aku pingin sekali kembali lagi ke masa lalu. Saat itu aku masih dalam buaianya. Selimut bergambar hello kitty inilah yang menjadi saksi bisu. Malam ini tubuh mungilku tiba – tiba menggigil. Angin malam berhembus dari pintu jendela. Hujan deras mengguyur tanpa henti. Suara petir menggelegar keras. Lampu rumah tiba – tiba padam. Akupun menangis sekeras – kerasnya. Suasana kembali terang ketika nenek membawakan lentera kecil terbuat dari pohon jarak.

“Menengo tole. Udane wes mandek.” Ucap nenek Fatimah dengan bahasa jawa. Kurang lebih artinya seperti ini, “Diam nak. Hujanya sudah reda.” Nenek Fatimah ini orangnya sangat sabar. Dialah nenek yang paling sayang kepadaku. Perlahan tangisanku mulai mereda. Aku merasa ada pelukan hangat di tubuhku. Semakin lama pelukan ini semakin erat. Kasih sayang yang ibu berikan membuatku tersihir malam ini. Mata sayupnya seakan layu ketika malam semakin larut. Tak ada satupun suara yang keluar. Senyap, sunyi dan sepi. 

Mungkinkah ini epilog terakhir dalam episode kehidupan ini. Aku merasakan sesuatu yang belum pernah aku rasakan. Jiwa ini terkapar tak berdaya. Pelukan hangat itu sudah lama aku nantikan. Kini aku sudah beranjak dewasa. Aku ingin pelukan hangat ini kembali lagi kepadaku. Namun, sayang seribu sayang. Kini tubuhnya tiba – tiba melemah tak berdaya. Melihat kondisi seperti ini, hatiku sangat terpukul. Sejenak aku pergi ke suatu tempat yang sepi. Aku berdiri menghadap ke utara. Melihat hamparan sawah terbentang luas. Langit cerah terang bernderang. Akupun menatap ke atas sambil berkata.
“Tuhan!. Lihatlah aku disini!”
“Aku ini hanya hambaMu yang lemah.”
“Tuhan!. Dengarkanlah hambaMu disini!”
“Langit dan bumi menjadi saksi pertemuan ini.”
“Hanya ada engkau dan aku tak ada yang lain.”
“Sampai kapan aku akan seperti ini.”
“Apakah ini hanya sebuah hukuman semata?”
“Apakah ini hanya ujian semata?”
“Apakah ini pertanda engkau benci kepada kami?”
“Apakah dengan semua ini engkau mencintai kami?”
“Apalah daya Tuhanku. Aku hanyalah sebutir debu yang tak ada gunanya.”
“Aku menyesal dengan kehidupanku.”
“Akhir – akhir ini aku sering mencampakkanMu.”
“Mungkinkah engkau masih mencintaiku?”
“Jika engkau masih sayang padaku. Berikan kado terindah untuk diriku.”
Setidaknya sekarang aku sudah mulai lega. Tak perlu curhat kepada teman atau sanak saudara. Cukup hanya Allah SWT sebagai teman curhatku. Tak perlu mengeluhkan masalah kehidupan kepada orang lain. Cukup hanya Allah SWT dan aku yang tahu. Sebaik – baiknya orang adalah mereka yang pandai mensyukuri kehidupan ini. Harta dan benda bagi diriku hanyalah titipan semata. Tabungan kita yang ada di bank hanya catatan kertas semata. Lantas, apa yang bisa kita banggakan?.


Tak ada yang bisa mengalahkan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Mereka berdua bagaikan mutiara yang bersinar. Hingar binar dunia tak mampu mengalahkanya. Sehebat apapun dan sekuat apapun seorang anak masih kalah dengan kasih sayang seorang ibu. Pernahkah waktu anda masih kecil dimarahin ibumu?. Sebenarnya kemarahan inilah yang menjadi bukti otentik kalau seorang ibu itu sangat sayang kepada anaknya. 

Dunia ini hanya sebatas gambaran semata. Dunia ini hanya tempat persinggahan. Tak ada yang abadi di dunia ini. Keabadian hanya milik tuhan semata. Ketika tuhan sayang kepada hambanya. Maka ujian yang sangat besar akan ditimpakan kepadanya. Mungkinkah saat ini tuhan sudah rindu dengan kehadiran ibuku. Wajahnya terlihat cerah dan bersemangat. Menjalani hari demi hari penuh dengan kesabaran. Beruntung aku punya seorang adek perempuan yang sangat hebat. Namanya Rika dan Sofi. Dua srikandi inilah yang selalu menemani ibuku. Mereka berdua bagaikan malaikat kecil yang datang secara tiba – tiba di dalam mimpiku.

Sudah satu bulan berlalu. Aku masih disibukkan dengan pekerjaan kantor. Setiap hari aku bekerja tiada henti. Di malam hari aku harus pergi mencari kitab suci. Mengembara bagaikan kuda yang tak kenal lelah. Selama perjalanan mencari kitab suci, mata ini secara spontan mengeluarkan air mata. Terbayang seorang ibu bersama kedua anaknya yang saat ini sedang bercumbu dengan tuhanya. Aku bersyukur sekali dengan ujian ini. Aku sangat beruntung dengan kejadian ini. 

Sebagai mahasiswa semester pertama. Aku harus rajin berangkat kuliah. Ditambah tugas kuliah yang menumpuk. Aku tidak merasakan beban yang berat ada di dalam diriku. Aku menganggap semua ini hanyalah sandiwara belaka. Batu di dalam gua saja bisa berlubang terkena tetesan air semata. Sama halnya seperti diriku. Aku hanyalah batu yang tak bisa apa – apa. Ujian dan cobaan yang aku hadapi bagaikan air yang sedang menetes. Secara terus menerus air itu menetes. Tetesan air itulah yang membuat batu ini berlubang. Tetesan air itulah yang membuatku diriku berubah dan bertahan.

Sudah lama aku tidak berjumpa dengan ibu. Pelukan hangatnya masih terasa sampai saat ini. Walau terpisah jarak yang cukup jauh. Namun mata batinku bisa merasakan. aku sangat dekat dengan ibu. Ku lihat dan ku pandang foto ibu yang tersimpan di dalam dompet. Wajahnya masih sama seperti yang dulu. Orangnya asyik dan mudah sekali bergaul. Andaikan aku bisa kembali ke masa lalu. Hal pertama yang aku lakukan adalah. “tidur di pangkuan ibu”.





 

Episode 8 mesophyta

Sekian lama aku menunggu. Puing-puing dedaunan layu di tepi jalan. Terhempas hilang bersama angin. Akankah sejarah bisa terulang kembali. Ak...